wirol haurissa
MASIH MENUNGGU MATAHARI
MASIH MENUNGGU MATAHARI
sudah siang dan matahari sangat merah
di situ aku temukan cinta laksana bunga pacar
bunga yang bersinar tanpa ada pengangkang
lalu tak ada waktu yang berani mengukir musim kemarau
walau hanya sedikit air yang ramai bernyanyi
air itu kadang kering tapi kembali membasahi jantungku
maka aku sekarang di liliti sungai
dan matahari tetap mengukir cahaya
di kening dan sebagian tubuh kita
kini tak ada lagi yang bersembunyi dari siang
bersembunyi dari serpihan sinar yang tajam
dalam matahari yang menjadi semangat
sudah siang dan matahari sangat merah
di sini aku menjadi cahayanya yang rindu
akan namaku di setiap jantung hati
Ambon, 2 Mei 2012

0 komentar: