masih menunggu matahari
03.33 | Author: syair wirol

wirol haurissa
MASIH MENUNGGU MATAHARI

sudah siang dan matahari sangat merah
di situ aku temukan cinta laksana bunga pacar
bunga yang bersinar tanpa ada pengangkang

lalu tak ada waktu yang berani mengukir musim kemarau
walau hanya sedikit air yang ramai bernyanyi
air itu kadang kering tapi kembali membasahi jantungku

maka aku sekarang di liliti sungai 
dan matahari tetap mengukir cahaya
di kening dan sebagian tubuh kita

kini tak ada lagi yang bersembunyi dari siang
bersembunyi dari serpihan sinar yang tajam
dalam matahari yang menjadi semangat

sudah siang dan matahari sangat merah
di sini aku menjadi cahayanya yang rindu
akan namaku di setiap jantung hati
 
Ambon, 2 Mei 2012
|
This entry was posted on 03.33 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: